Top
Begin typing your search above and press return to search.

150 ustadz dan ustadzah di empat kabupaten di Jawa Tengah berlatih disiplin positif 

Sebanyak 150 ustadz dan ustadzah yang berasal dari berbagai pondok pesantren di empat kabupaten/kota di Jawa Tengah berlatih untuk menerapkan disiplin positif untuk mengasuh dan mendampingi para santrinya.

150 ustadz dan ustadzah di empat kabupaten di Jawa Tengah berlatih disiplin positif 
X
Sumber foto: Joko Hendrianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Sebanyak 150 ustadz dan ustadzah yang berasal dari berbagai pondok pesantren di empat kabupaten/kota di Jawa Tengah berlatih untuk menerapkan disiplin positif untuk mengasuh dan mendampingi para santrinya. Mereka melakukan pelatihan Disiplin Positif dalam Program Pencegahan Perkawinan Anak dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender di Kabupaten Cilacap, Wonosobo, Blora, dan Kota Semarang pada 25 Januari hingga 5 Februari 2022.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten selaku pelaksana program bekerjasama dengan Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Provinsi Jateng, Kanwil Kementerian Agama Jateng, serta didukung UNICEF melakukan roadshow pelatihan untuk para ustadz/ustadzahdi empat pondok pesantren.

Empat pondok pesantren itu adalah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Cilacap, Pondok Pesantren Takhasus Al-Quran Al Asy’ariyyah Wonosobo, Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang, dan Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

Ketua LPA Klaten Akhmad Syakur,Jumat (25/2) menjelaskan, "Selama ini persepsi penggunaan hukuman yang biasa dipakai untuk mendisiplinkan santri berdampak kurang baik untuk tumbuh kembang mereka sehingga untuk menyiapkan pengasuhan yang positif diubah dengan cara baru, yakni disiplin positif."

Akhmad Syakur menambahkan bahwa kegiatan yang dilakukan ini mendukung program pemerintah dalam rangka mewujudkan lingkungan yang ramah dan aman untuk anak yakni salah satunya pesantren dan madrasah.

Ia menerangkan kultur di pondok pesantren sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Untuk itu pelatihan disiplin positif dilakukan untuk melatih tenaga pendidik khususnya di pondok pesantren untuk mengerti dan mengamalkan bagaimana memberikan pengasuhan secara positif.

"Pengasuh dan pengurus pondok pesantren memiliki kesempatan lebih banyak untuk bertemu dengan santri. Pola pengasuhan di pondok pesantren menjadi poin utama pada pelatihan disiplin positif ini. Ustadz dan ustadzah dapat menolong anak agar mampu mengontrol dirinya sendiri, serta anak mampu mengenali apa yang dilakukannya, dan menyadari untuk berubah menjadi lebih baik," kata Akhmad seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Minggu (27/2).

Sebelum pelatihan dilaksanakan, sebanyak 20 fasilitator dari pondok pesantren dilatih terlebih dahulu di Solo pada 10 - 13 Januari 2022. Dalam praktik penerapan disiplin positif adalah jika ada santri yang melakukan tindakan yang tidak tepat, ia akan diberi bimbingan agar sadar dan bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jateng Musta’in Ahmad mendukung penuh kegiatan pelatihan disiplin positif itu.

"Cara mengajar santri saat ini sangat berbeda dengan zaman dulu. Kami berhadap pelatihan ini mampu membuat semua pondok pesantren untuk berkomitmen bersama bergerak dalam program penanganan kekerasan dan pencegahan perkawinan anak dan penanganan kekerasan berbasis gender," kata Musta'in.

Sementara Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Retno Sudewi menambahkan, "Jawa Tengah saat ini sedang menyusun kembali peraturan daerah yang sudah ada di tahun 2013 tentang Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Di perda itu memuat pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak dan kami juga memasukkan unsur tentang pencegahan perkawinan anak."

Ia menjelaskan perda tentang perkawinan anak diturunkan karena di kementerian pusat juga sudah memiliki strategi nasional tentang perkawinan anak.

"Program-program yang sejalan akan lebih ditingkatkan, dan yang telah dilakukan untuk program pencegahan perkawinan anak adalah Jo Kawin Bocah “Nikah Sehati” – sehat, terencana, dan mandiri. Program ini perlu dukungan sinergi dengan berbagai unsur, salah satunya adalah komunitas, media, pondok pesantren, serta UNICEF. Penerapan disiplin psoitif, pencegahan bullying di pondok pesantren," ujar Sudewi.

Penerapan disiplin positif itu akan terus berlanjut untuk waktu mendatang dengan pendampingan LPA Klaten di empat koordinator wilayah untuk mengetahui dan memastikan penerapan disiplin positif oleh para ustadz, ustadzah, dan guru madrasah.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire